Kesalahan Founders saat Membangun Startup

Disusun oleh: Zulfa Fitria Anggiansyah

NPM: CB201120398

Mahasiswa STIAMI Jakarta


5 Kesalahan yang Dilakukan Founders saat Membangun Startup 

dan Bagaimana Solusinya?


Ketika mendengar istilah “startup”, kemungkinan di benak Anda terbayang nama-nama startup yang sudah sukses mendunia, seperti Spotify dan Uber. Meskipun begitu, pada kenyataannya banyak startup yang mengalami kegagalan sebelum bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi. Kenapa startup gagal? Berikut 5 kesalahan yang alami founders saat akan membangun menyebabkan startup mengalami kegagalan:

1.   Kehabisan Dana 

Startup bisa jadi telah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk mewujudkan gagasannya dalam menghadirkan inovasi kepada masyarakat. Meskipun begitu, startup memiliki sumber daya finansial yang terbatas. Startup bisa mengalami kegagalan untuk mengembangkan bisnis atau bahkan sekadar melangsungkan operasi tanpa dana penyokong. Sebuah startup yang menghabiskan dananya sesungguhnya menunjukkan adanya kesalahan dalam model bisnis yang dijalankan. Kesalahan tersebut membuat bisnis tidak sustainable atau memiliki prospek jangka panjang. Bisa jadi ada pos-pos di mana startup terlalu banyak mengeluarkan uang sehingga pos-pos lainnya menjadi terabaikan.

Selain itu, bisa jadi startup tidak mempersiapkan contingency plan di dalam rancangan pendanaannya. Startup perlu merencanakan apa yang akan dilakukan jika target yang dijalankan tidak terwujud atau ada proses yang tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Dengan begitu, startup bisa menghindar dari pengeluaran dana besar untuk mengatasinya. Sebagai contoh, sebuah startup menghabiskan terlalu banyak uang untuk merekrut ahli guna pengembangan produk. Pada saat rancangan produk sudah matang, startup ternyata sudah tidak memiliki dana untuk menjalankan proses produksi sehingga idenya terbuang percuma.

2.   Founder Bukan Ahli 

Alasan kenapa startup gagal berikutnya adalah founder bukanlah seorang ahli di niche atau sektor yang disasar. Seorang founder bisa jadi mendirikan startup berdasarkan pengalamannya sebagai konsumen. Hal ini tentunya tidak salah. Banyak sekali startup yang bermula dari konsumen dan tetap bisa mencapai kesuksesan. Akan tetapi, biasanya founder tersebut akan mencari seorang co-founder atau partner yang merupakan ahli di dalam industri yang disasar. Seseorang yang ahli di dalam industri akan bisa melihat peluang-peluang pengembangan yang akan dilewatkan oleh orang yang tidak memahami seluk-beluk industri tersebut.

Seseorang yang sudah berkecimpung di dalam sebuah industri dalam waktu yang lama juga memiliki keunggulan dalam bentuk networking. Founder dengan jejaring sosial yang luas dalam satu industri mampu merangkul pemain-pemain lain dalam sektor tersebut di dalam usahanya untuk membantu bisnis berkembang. Sebagai contoh, sebuah startup menawarkan pakaian terjangkau untuk wanita kantoran. Meskipun begitu, founder tidak memiliki koneksi yang banyak di industri garmen karena sebelumnya berkecimpung di industri yang lain. Bisa terjadi permasalahan produksi hingga penentuan harga karena isu semacam ini.

3.   Tidak Adanya Product-Market Fit 

Product-market fit atau kesesuaian produk dengan pasar sangat penting. Jika tidak ada kesesuaian ini, startup tidak akan mungkin bisa menghasilkan revenue atau pendapatan. Terdapat dua masalah utama yang menyebabkan ketidaksesuaian produk dan pasar, yaitu produk yang tidak tepat maupun kesalahan dalam membidik pasar. Produk yang tidak tepat terjadi ketika produk yang ada tidak mampu menyelesaikan masalah yang ingin diselesaikan atau setidaknya belum memberikan solusi yang memuaskan untuk permasalahan tersebut. Masyarakat merasa bahwa produk tersebut tidak berhasil memenuhi ekspektasinya dan tidak akan menggunakan produk tersebut lagi.

Sesungguhnya masalah seperti ini bisa ditanggulangi dengan riset pasar yang kuat sebelum, selama, dan setelah pengembangan produk dilakukan. Riset sebelum produk dilancarkan akan membantu founder mengerucutkan gagasannya agar mampu menyelesaikan masalah konsumen dengan lebih spesifik. Selama pengembangan produk, startup akan membuat berbagai prototipe. Dengan melibatkan konsumen dalam proses ini, pengembangan produk akan terjadi dengan lebih cepat dan hasilnya lebih bisa dijamin mampu memuaskan masyarakat.  Sementara itu, melibatkan konsumen setelah melakukan peluncuran produk bisa memberikan startup pengetahuan akan bagaimana jika produk digunakan oleh masyarakat luas. Riset pasar setelah peluncuran produk juga bisa memberikan ide pengembangan untuk masa depan.

4.   Tim yang Lemah

Manajemen startup yang lemah bisa menjadi alasan kenapa startup gagal. Kelemahan tim biasanya dimulai dari strategi. Dalam tahap penyusunan strategi, manajemen bisa jadi gagal mengembangkan produk yang menarik perhatian pasar karena tidak melakukan usaha yang cukup sebelum dan selama tahap pengembangan. Isu strategi ini akan berlanjut dengan eksekusi gagasan yang buruk. Produk yang telah dirancang bisa jadi tidak diproduksi dengan benar atau tepat waktu. Hal ini terjadi ketika tim manajemen salah perhitungan akan waktu dan biaya yang diperlukan untuk melakukan kegiatan produksi.

Manajemen kemungkinan juga tidak melakukan peluncuran produk dengan benar, misalnya memilih waktu yang tidak sesuai sehingga produk tidak memanfaatkan momentum pasar. Selain itu, bisa jadi manajemen salah memilih cara memasarkan produknya sehingga orang-orang tidak mengenal produk tersebut. Manajemen yang lemah juga akan cenderung memilih tim yang lemah di bawahnya, sehingga keseluruhan organisasi sendiri pun tidak akan resilien jika dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang ada di pasar.

5.   Gagal dalam Skalabilitas

Skalabilitas merupakan kemampuan sebuah sistem untuk menangani beban baru seiring terjadinya pertumbuhan. Startup tentunya beraspirasi untuk bisa meningkatkan valuasinya setinggi mungkin dan membantu sebanyak mungkin orang dengan produk inovatif yang ditawarkan. Startup dengan potensi yang baik di fase-fase awalnya bisa gagal ketika tidak mampu melakukan skalabilitas dengan baik. Ahli menyarankan startup untuk menemukan sebuah situasi di mana sales sudah dalam kondisi stabil dan memiliki prospek untuk bertumbuh sebelum melakukan skalabilitas.

Bisnis yang tidak mengindahkan langkah ini biasanya akan gegabah di dalam melakukan proses rekrutmen dan peningkatan jumlah produksi. Akibatnya, terdapat terlalu banyak sumber daya di dalam perusahaan dibandingkan dengan jumlah pasar yang cenderung stagnan. Langkah seperti ini juga akan menghabiskan dana startup dengan cepat. Ketika startup masih belum menemukan angka sales yang stabil dan pertumbuhan valuasi yang positif, sesungguhnya masih ada permasalahan yang belum bisa diselesaikan olehnya. Permasalahan tersebut bisa jadi bersifat internal maupun eksternal. Skalabilitas justru bisa memperbesar permasalahan tersebut.

Ada lebih banyak alasan kenapa startup gagal di luar sana. Hal tersebut menunjukkan bahwa startup memiliki margin kegagalan yang cukup besar. Namun, startup yang berhasil melewati tantangan semacam ini akan menjadi pemimpin dalam pasarnya. Salah satu permasalahan yang sering terjadi dalam sebuah startup adalah keuangan. Dan pastinya tidak ada satupun founder startup yang mau mengalami kegagalan. Untuk itu, kamu bisa lakukan hal-hal berikut ini untuk menghindari kegagalan startup. 

1. Bentuk Tim yang Solid

Kerja sama tim yang buruk merupakan salah satu alasan kegagalan startup. Dalam membentuk tim yang solid, bakat saja tidak cukup. Selain memastikan kalau tim kamu terdiri dari orang-orang yang memang kompeten di bidangnya, kamu juga harus memastikan bahwa tim ini mampu bekerja bersama untuk mencapai tujuan. Banyak hal yang bisa dipertimbangkan ketika membentuk tim termasuk kesamaan visi, kesamaan tujuan, cara kerja, sampai apakah masing-masing anggota tim menghargai value yang sama. Jangan sampai kalian nanti menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berdebat karena cara kerja maupun visi yang tak sejalan.

2. Riset Pasar Secara Menyeluruh

42% Kegagalan startup disebabkan oleh kesalahan membaca permintaan pasar. Hal ini bisa terjadi ketika startup tidak melakukan riset secara menyeluruh. Misalnya, mereka hanya mendapatkan validasi ide dari orang-orang terdekat dan early adopters sehingga mendapatkan feedback positif yang sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi pasar (false positive). Saat melakukan riset pasar, kamu juga harus memperkirakan masa depan industri yang kamu pilih. Sangat penting untuk mencari tahu apakah bisnis yang kamu pilih akan bertahan dalam jangka panjang dan bukan hanya tren sesaat.

3. Uji Viabilitas Produk

Inilah alasan mengapa startup perlu memiliki minimum viable product (MVP). Dengan memiliki MVP, kamu bisa mengujicobakan produk ke konsumen dan mendapatkan feedback dari mereka. Melakukan pivot atau menyesuaikan fitur-fitur produk lebih baik dilakukan di awal pengembangan sebelum kamu meluncurkan produk secara besar-besaran dengan biaya besar tanpa mengetahui apakah produk itu akan diminati pasar.

4. Memiliki Business Plan yang matang

Selain memecahkan masalah dan memberikan solusi kepada pasar, salah satu tujuan membangun startup adalah memperoleh profit. Kamu tidak akan bisa bertahan kalau startup kamu tidak mendapatkan keuntungan. Bahkan organisasi nonprofit sekalipun tetap membutuhkan income supaya bisa tetap berjalan. Jadi kamu tetap harus memikirkan rencana bisnis yang matang. Bagaimana startup kamu akan mendapatkan keuntungan? Dalam jangka waktu berapa lama keuntungan ini akan diperoleh? Rencana bisnis yang matang akan memberikan tolok ukur dalam menentukan langkah bisnis selanjutnya. 

5. Mengatur Keuangan

Selama ini kita sudah sering membahas mengenain cara mendapatkan pendanaan startup. Tapi sangat jarang kita membahas mengenai cara mengatur dana yang sudah diperoleh. Padahal, mengatur dana sama pentingnya dengan mendapatkan dana itu sendiri. Kalau tidak diatur dan direncanakan dengan baik, maka dana yang dikeluarkan bisa jadi sia-sia. Banyak startup mengalami kegagalan karena salah memprioritaskan penggunaan dana. Misalnya terlalu fokus mengeluarkan budget untuk marketing dan publikasi sementara produk belum dikembangkan secara sempurna. 

6. Adaptif dengan Perubahan

Industri digital merupakan industri yang mengalami perubahan sangat cepat. Banyak bisnis yang gulung tikar karena tidak mampu mengikuti perkembangan terkini sehingga kalah bersaing dengan kompetitor atau bahkan dengan pendatang baru. Oleh karena itu, kamu harus selalu siap dengan perubahan. Selain fokus pada pengembangan produk, kamu juga harus jeli membaca tren pasar dan perubahan kebiasaan masyarakat. Lakukan penyesuaian agar startup tetap relevan dan tetap diinginkan.  Setelah tahu hal apa saja yang bisa dilakukan untuk menghindari kegagalan startup, sekarang kamu bisa focus untuk mengembangkan startup yang berhasil. Selain itu, bimbingan ahli juga bisa membantu kamu mengambil langkah yang tepat dan menghindari kegagalan.


Comments

Popular posts from this blog

Kapan Founder’s Agreement Dibuat?

Apa itu Founder’s Mentality dan Pola Pikir Seorang Founder?

Apa Itu Marketing Funnel?